Hari ada berita OBL mati karena tipes. Ini saya kira pancingan supaya ybs membuat pernyataan yang dari situ nantinya dia akan ditrack. He he ... lucunya itu Amrik. Manalagi sikap kekanak-kanakan mereka waktu bikin susah menlunya Chavez di bandara.
Banjir lumpur porong ndak selesai, barangkali sengaja didiamkan karena ini menjadi potensi bikin susah pejabat-pejabat pemerintah terkait. Kalau presiden berani menetapkan ini sebagai bencana nasional mungkin agak berlebihan , tetapi sebenarnya diperlukan (necessary).
Ada lagi berita membludaknya jamaah tarawih di Jateng karena imamnya hafiz. Ini merupakan perkembangan positif sebagai penghargaan terhadap para hafiz. Menjadi imam masjid seharusnya memang hak mereka yang memeiliki bekal agama yang cukup. Hanya saja kemapuan menghafal dan membaca dengan baik Al-Qur'an hendaknya hanya sebagian dari persyaratan. Pengetahuan agama (fiqh, hadits, sejarah dll) serta adab merupakan hal lain yang harus menjadi persyaratan.
Kriminal kok dibela. Ini sebenarnya judul yang saya angankan ketika membaca reaksi masyarakat dibeberapa kota (Atambua, Palu) setelah eksekusi Tibo dkk. Dari sebuah sumber di MIIT saya baca betapa kejamnya mereka yang nampaknya didatangkan dari NTT menjadi semacam pasukan sahid pihak Kristen yang bersengketa di Palu. Selain menghendaki tindakan yang sama terhadap umat/pasukan Islam yang berlaku seperti Tibo (menghukum/ yang tidak bersalah), saya kira pihak keamaan perlu mencermati mereka yang memberikan reaksi berlebihan terhadap eksekusi tersebut. Meningkatkan wibawa pengadilan sebenarnya sangat perlu pada saat masyarakat yang buta keadilan dalam kebimbangan (anomali). Akan tetapi reaksi beberapa tokoh nasional (a.l. Hikam) yang perhatikan nampaknya hanyalah cara dari para politikus tua untuk mencoba berkiprah kembali. Wallaahu a'lam.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home