Terbelit kemiskinan
Ini jawaban mengapa kemiskinan di Indonesia tak kunjung berkurang.
Pertama, ini menyangkut karakter bangsa, yaitu .. tidak mau atau malu mengakui kekurangan atau kelemahan diri, kurang mau berintrospeksi, cenderung menyalahkan faktor 'luar'...
Apapun ukurannya, semua orang tahu bahwa 30-50% manusia Indonesia berpenghasilan kurang dari 20 ribu rupiah (2 $AS) per hari, 18-20% berpenghasilan kurang dari 10 ribu rupiah (1 $AS) per hari. Nilai-nilai pendapatan tersebut yang umumnya dipakai sebagai ukuran batas kemiskinan di seluruh dunia. Tujuannya tentu saja untuk melihat sejauh mana usaha pemberantasan menunjukkan hasil. Jadi kalau garis yang dipakai adalah persentase manusia Indonesia yang hidup di bawah pendapatan 10 ribu rupiah per hari, maka kalau kita dapatkan angka 18% pada tahun 2004, berarti pada tahun tersebut ada sekitar hampit 40 juta rakyat kita tergolong miskin. Masalah yang ada pada kebijakan pemerintah Indonesia bukannya pada upaya menurunkan angka tersebut, akan tetapi pada upaya menipu dunia dan diri sendiri bahwa bahwa usaha pemberantasan kemiskinan 'terlihat' berhasil. Jadi, daripada berpegang pada garis kemiskinan 1 dollar atau dua dolar secara tetap, yang dipegang sama pemerintah adalah nilai 'persentase' sebagai ukuran keberhasilannya. Makanya tiap tahun kita hanya berdebat dengan cara menggoyang dan memindahkan garisnya batasnya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home