Opini Gilhamto

Wednesday, October 18, 2006

Nobel perdamaian untuk Muhammad Yunus

Saya turut bergembira atas hal ini.

Selayaknya momentum bagus ini bisa kita renungkan bahwa sistim ekonomi haruslah didasarkan pada sistim kepercayaan, bukan sistim penghargaan dan hukuman (reward and punishment) sebagaimaa diterapkan dalam ekonomi kapitalis. M. Yunus mengajarkan kepada kita bahwa inilah sebenarnya konsep ekonomi dalam Islam, kepercayaan dan pinjaman tanpa bunga. Orang miskin memiliki 'hak' untuk meminjam uang (bukan 'boleh'). Grameen system adalah sistim ideal bagi negara miskin dam semestinya efektif diterapkan di Indonesia, atau negara Islam yang lain.
Saya membayangkan alangkah besarnya dampak pengentasan kemiskinan bila Arab Saudi dapat menerapkan metode tersebut untuk perbankan negaranya. Bukannya mengikuti teori kapitalis. Kita secara jelas daoat melihat bahwa sekalipun Arab saudi terlihat kaya, negara tersebut tak lebih dari kaki tangan para imperialis kapitalis dengan belenggu mengikat di belakang.

Amerika di Iraq

Ada alasan khusus mengapa Amerika berlama-lama menduduki Iraq, walaupun korban dipihak mereka semakin banyak berjatuhan, demikian pula tekanan publik di dalam negeri mereka semakin besar. Hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan kedudukan Bush sebagai presiden. Menurut saya ini adalah program besar dibalik rencana cakra lima.

Teori saya, tujuan utama mereka adalah membuat Iraq demikian labil sehingga akan terjadi pemecahan wilayah, katakanlah selatan untuk Syiah, tengah untuk Sunni dan utara untuk Kurdi. Dengan demikian di masa mendatang akan lebih mudah mengakses minyak atau membuat sesuatu untuk kepentingan mereka.