Opini Gilhamto

Sunday, December 30, 2007

Sudahlah, .. Gus!

Tempo Minggu, 30 Desember 2007 memasang judul Gus Dur Pastikan Maju ke Bursa Pemilihan Presiden 2009.. wuah.. hebat benar.. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, komentar saya ya itu tadi .. sudah aja.. jangan terlalu mengikuti nafsu dunia. Anda sebagai orang yang dituakan oleh kebanyakan orang seharusnya dapat mengukur diri, bahwa pekerjaan sebagai presiden memerlukan kondisi fisik yang cukup kuat, bukan semata-mata dukungan beberapa kelompok. Indonesia akan tambah kacau nantinya kalau sebentar-sebentar presidennya masuk rumah sakit. Yang masyarakat harus tahu adalah.. siapa-siapa sebenarnya para kiai di belakang gus Dur yang dikatakan memerintahkan untuk maju nyalon. Adalah salah besar kalau hanya Gus Dur yang memikirkan bangsa secara utuh. Beliau kan pernah jadi presiden dan tidak juga membikin masyarakat Indonesia jadi kaya. Karena itu tidaklah berhak mengomentari kalau pemerintah sekarang kurang memajukan rakyat. Logikanya, anda pernah diberi kesempatan, dan kesempatan tersebut anda gunakan 'sak enak udelmu' juga .. Makanya sekarang... ndak usah omonglah...!

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Dewan Syura DPP PKB Abdurrahman Wahid menyatakan dirinya akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden dalam bursa pemilihan presiden 2009 mendatang. "Saya sudah dapat perintah dari para kiai sepuh untuk menjadi calon presiden mendatang," katanya usai acara 'Orasi Akhir Tahun Gus Dur di Jakarta, Minggu (30/12).

Pemimpin yang ada saat ini, kata kiai yang biasa disapa Gus Dur ini, tidak berpihak pada rakyat banyak dan hanya memikirkan kepentingannya masing-masing. "Tidak ada yang memikirkan bangsa secara utuh," katanya.

Menurutnya, dibawah pemerintahan pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla, bangsa ini justru mengalami kemunduran. "Klaim ada kemajuan dari pemerintah, karena SBY elitis," katanya.

Ia menilai Presiden Yudhoyono tidak perduli pada kesulitan yang dihadapi rakyat. "Rakyat sekarang melarat, dia (Yudhoyono) tidak perduli, tapi ngurusi hak cipta lagu," katanya. Mengenai siapa tokoh yang akan menjadi pasangannya nanti, ia hanya menjawab, "Tunggu tanggal mainnya."

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar membenarkan partainya akan mengusung Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden 2009 nanti. "Kami sudah putuskan Gus Dur sebagai calon presiden," katanya.

Mengenai siapa tokoh yang akan mendampingi Gus Dur, ia melanjutkan, akan dibahas dalam rapat kerja nasional Partai Kebangkitan Bangsa awal tahun depan nanti. Partainya, kata dia, juga belum memastikan akan berkoalisi dengan partai mana. "Saat ini belum ada partai yang serius soal koalisi, masih tahap penjajagan," katanya. Dwi Riyanto Agustiar

Friday, December 28, 2007

Budaya Baca Tulis

Kompas Sabtu 29 Desember 2007.

SBY menyataka bahwa mayarakat kita lebih berat ke budaya lisan/tutur dpd budaya tulis dan baca. Yang benar adalah kita selain tidak memiliki budaya tulis dan baca, tidak juga punya budaya tutur dan lisan. Buktinya semakin banyak budaya-budaya lisan/tutur yang semakin hilang. Lihatlah budaya cerita, tembang, mocopat, sandiwara lokal, tonil, ludruk dll. yang semakin menyusut. Belum lagi banyak bukti yang menunjukkan bahwa para ilmuwan kitapun gagap berbicara, politikus apalagi.. kalau bicara plintat-plintut tanpa logika dan kurang mengindahkan kaidah bahasa. bahasa Indonesia kita semakin lama tidak menjadi semakin baku, malahan menjadi kacau. Simaklah para pejabat, selebriti, ulama bahkan pakar bahasa di berbagai media... Bahasa Indonesia yang indah belum semourna sudah dicampur dengan bahasa asing maupun lokal, teremasuk bahasa gaul, bahasa prokem dll. campur aduk sehingga menyulitkan bangsa lain yang tertarik untuk mempelajari bahasa kita. Fenomena Tukulisasi televisi sesungguhnya menjadi penghambat perkembangan bahasa.












Berita Utama
Sabtu, 29 Desember 2007

10 Tahun Reformasi
Presiden: Jujur Saja, Indonesia Bergerak Maju

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, dengan penilaian yang jujur, obyektif, dan terbuka, Indonesia yang terus bertransformasi hingga saat ini bergerak maju dari situasi serba krisis sejak tahun 1997. Jika transformasi terus dilanjutkan, Presiden optimistis masa depan Indonesia akan terus menjadi lebih baik.

"Disertai optimisme dan kerja keras, jika transformasi dilanjutkan, insya Allah masa depan kita akan lebih baik," ujar Presiden dalam sambutan peluncuran buku kumpulan pidato dan pernyataannya dengan judul Indonesia on the Move di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (28/12).

Untuk klaim kemajuan itu, Presiden menyebut bidang politik, ekonomi, sosial, pertahanan, dan posisi di dunia internasional sebagai acuan. Di bidang politik, hak asasi manusia dan demokrasi mekar. Di bidang ekonomi, pertumbuhan ekonomi terus naik mendekati 7 persen. Di bidang sosial, tak ada lagi konflik. Di bidang pertahanan, tak ada lagi embargo. Di bidang luar negeri, posisi Indonesia makin kuat.

Kemajuan bangsa yang kini dirasakan itu, menurut Presiden, tidak lepas dari peran seluruh masyarakat dan juga para pemimpinnya. Presiden menyebut peran Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Tidakkah secara jujur, meskipun tetap ada masalah, ada capaian dan ada kemajuan sepanjang perjalanan ini," ujarnya. Klaim itu menjadi dasar bagi Presiden Yudhoyono memberi judul atas buku yang disusun Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal itu.

Presiden ingin dunia internasional tahu dan tepat memahami Indonesia secara gamblang. Selama ini, Presiden merasa Indonesia kerap salah dimengerti oleh beberapa pihak dan dinilai sebagai negara yang paling susah dimengerti.

"Dunia harus tahu, Indonesia tengah bangkit dari krisis dengan visi dan idealisme jelas serta karakter yang kuat. Saya ingin memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Indonesia. The true picture of Indonesia," ujarnya.

Masyarakat belajar

Untuk mengantar Indonesia pada kemajuan yang dicita-citakan, Presiden menekankan pentingnya budaya baca-tulis dan belajar. Pentingnya budaya baca dan tulis ini disampaikan juga sebelumnya oleh Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama. Meskipun demikian, sangat disayangkan, budaya baca di Indonesia masih rendah.

"Kita saat ini senang dengan budaya lisan dan tutur. Tidak keliru, tetapi harus dilengkapi dengan budaya baca dan tulis. Marilah bangun diri kita menjadi masyarakat membaca dan masyarakat belajar. Membaca adalah investasi, solusi, dan dapat mengubah nasib dan masa depan," ujarnya.

Terhadap upaya membangun masyarakat membaca dan masyarakat belajar, Presiden memberikan penghargaan atas upaya panjang Jakob Oetama dengan Kompas Gramedia-nya sebagai penjuru dan pemimpin di garis depan.

Mengenai upaya menjadi masyarakat belajar, Presiden bercerita mengenai kegemarannya menghabiskan libur akhir pekan sejak berpangkat letnan bersama istri dan anak-anaknya ke toko buku. Dua toko buku yang kerap dikunjungi Presiden dan keluarga adalah Toko Buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung, dan Gramedia Matraman. Buku bagi Presiden menimbulkan inspirasi, menambah pengetahuan, dan menyempurnakan kepribadian.

Terhadap kegemaran Presiden yang nyata dalam buku-buku yang diterbitkan, Jakob Oetama memuji Presiden sebagai negarawan, cendekiawan, dan juga budayawan.

Setelah peluncuran buku, Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono berkeliling toko buku.

Presiden dan Ny Ani Yudhoyono mengakhiri acara dengan ikut bernyanyi bersama anak-anak di lantai empat. (INU)

Terbelit kemiskinan

Ini jawaban mengapa kemiskinan di Indonesia tak kunjung berkurang.

Pertama, ini menyangkut karakter bangsa, yaitu .. tidak mau atau malu mengakui kekurangan atau kelemahan diri, kurang mau berintrospeksi, cenderung menyalahkan faktor 'luar'...

Apapun ukurannya, semua orang tahu bahwa 30-50% manusia Indonesia berpenghasilan kurang dari 20 ribu rupiah (2 $AS) per hari, 18-20% berpenghasilan kurang dari 10 ribu rupiah (1 $AS) per hari. Nilai-nilai pendapatan tersebut yang umumnya dipakai sebagai ukuran batas kemiskinan di seluruh dunia. Tujuannya tentu saja untuk melihat sejauh mana usaha pemberantasan menunjukkan hasil. Jadi kalau garis yang dipakai adalah persentase manusia Indonesia yang hidup di bawah pendapatan 10 ribu rupiah per hari, maka kalau kita dapatkan angka 18% pada tahun 2004, berarti pada tahun tersebut ada sekitar hampit 40 juta rakyat kita tergolong miskin. Masalah yang ada pada kebijakan pemerintah Indonesia bukannya pada upaya menurunkan angka tersebut, akan tetapi pada upaya menipu dunia dan diri sendiri bahwa bahwa usaha pemberantasan kemiskinan 'terlihat' berhasil. Jadi, daripada berpegang pada garis kemiskinan 1 dollar atau dua dolar secara tetap, yang dipegang sama pemerintah adalah nilai 'persentase' sebagai ukuran keberhasilannya. Makanya tiap tahun kita hanya berdebat dengan cara menggoyang dan memindahkan garisnya batasnya.

Belitan Kemiskinan

Benazir Bhutto

Ya Allah,.. dunia kembali kehilangan seorang muslimah yang berani...
Apapun aliran politiknya, saya selalu mengagumi wanita satu ini. Bukan karena politik yang dianutnya.. melainkan kepercayaan dirinya yang kuat yang menyebabkan hilangnya rasa takut akan maut yang selalu mengintai. Tidaklah banyak orag yang seperti ini.

Disebuah koran disebut.. Megawati berusaha menyejajarkan diri dengan Benazir.. saya kira agak jauh dia di belakang Benazir. Benar mereka sama anak presiden, benar mereka adalah presiden perempuan dinegara masing-masing, akan tetapi dalam hal artikulasi berbicara, kemampuan komunikasi, intelegensia dan visi kenegaraan,.. semuanya hal yang sangat krusial sebagai modal negarawan, .. lebih dimiliki Benazir ketimbang Megawati ...

Pemimpin Indonesia perlu belajar banyak dari wanita utama Pakistan ini. Modal akademik, kemampuan komunikasi, pengalaman melihat dunia yang lebih lebar, keberanian mengambil resiko, strategi merancang masa depan partai dlsb. perlu mendapat perhatian utama. Politisi Indonesia kebanyakan muncul berkat kasak-kusuk, kong-kalikong, suap sini suap sana, mengambil keuntungan sebelum bekerja, pendek visi, self-centered, penganut nepotisme, primordialisme, croniisme, malah sebagain besar rasisme.