Opini Gilhamto

Friday, April 20, 2007

Siapa terorist, siapa penyelamat.

Ini ironi yang tak pernah berhenti.
Bush bilang amerika adalah penyelamat sedangkan bin ladin adalah si teroris
Bin Ladin bilang Al-Qaidah adalah penyelamat sedangkan Bush dan pasukannya adalah yang sebenarnya teroris.
Masing-masing bersandar pada ukuran yang mereka miliki.
Bush punya bekal Bibel dan ajaran gereja yang didatangi sewaktu-waktu
Bin Ladin punya dalil dari sobekan Qur'an.
Dibilang apapun keduanya tak akan mungkin bisa ketemu
Didukung atau dikecampun mereka takkan berhenti
bagaimana kalau kita mulai dari kita sendiri
berhenti mendukung dan berhenti mencaci
karena agama adalah budi pekerti .. bukan benci
karena Qur'an adalah ajaran tentang kesabaran, bukan kekerasan, bukan petentengan
karena Bibel adalah ajaran damai bukan perang
mereka lupa bahwa kemenangan bukanlah karena jumlah, melainkan tumbuhnya kesadaran
bagi pejuang sejati, surga untuk mereka yang melawan kezaliman,
bukan untuk mereka yang menyerang si awam

Dangdut yang tidak sehat

Pernah coba nonton dangdut via YouTube atau Google video? Walah ...., kesan yang pertama muncul di benak adalah betapa miskinnya moral musisi kita. Para penyanyi dangdut kita saat ini hanya bisa pamer aurat. Adapun seni dangdutnya tidak lagi membuat penikmat musiknya betah dengan pameran pakaian super ketat dan super mini....

Saya bermimpi mungkin kalau membayangkan suatu saat dangdut akan menjadi panutan lagu dunia. Cengkoknya yang khas dengan syair lagu tentang cinta, penderitaan si yatim atau gaya metaforis mebandingkan bau cinta dengan bau durian memang kelihatan serba lugu, tetapi sesungguhnya mencerminkan dunia bawah masyarakat kita.

Kini kalau muncul banyak lagu tak bermutu dengan tekanan pada 'goyangan maut' apakah itu bukan cerminan kondisi kita sekarang? Saya rindu Ida Lala, .. juga Elvie Sukaesih, Rita Sugiarto, Meggy Z bahkan pak Dirman si tak semua Laki-laki. Anehnya yang populer malah si Inoel yang kualitas suaranya memble..!