Opini Gilhamto

Sunday, January 27, 2008

Mati, Meninggal atau Wafat?

Hari ini, 27 Januari 2008 mantan presiden RI Suharto telah tiada. Kematiannya meninggalkan banyak kontroversi. Bukan hanya kontroversi hukum terutama yang berkaitan dengan penyelidikan korupsi atau politik yang berkaitan dengan masalah pembangunan bangsa, akan tetapi juga menimbulkan kontroversi mengenai penyebutan kematiannya.
Di hari kematiannya kita diingatkan oleh tata cara pemakaian bahasa semasa pemerintahan 'beliau'. Kita juga diingat'ken' bagaimana peran TVRI dengan 'hari-hari omong kosong'nya menyiarkan berita seputar Suharto. Bahasa menunjukkan bangsa..!, maksud konkritnya .. bahasa menunjukkan dukungan politik anda.
Kita lihat berita koran hari ini, koran mana yang menyebut Suharto mati, koran mana yang menyebut meninggal, dan mana yang menyebut wafat. Dalam kamus bahasa Indonesia semuanya berarti sama, akan tetapi dari pendidikan bahasa yang ditinggalkan Suharto, pilihan kata yang anda pilih akan menunjukkan perasaan anda.

GI

Sunday, December 30, 2007

Sudahlah, .. Gus!

Tempo Minggu, 30 Desember 2007 memasang judul Gus Dur Pastikan Maju ke Bursa Pemilihan Presiden 2009.. wuah.. hebat benar.. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, komentar saya ya itu tadi .. sudah aja.. jangan terlalu mengikuti nafsu dunia. Anda sebagai orang yang dituakan oleh kebanyakan orang seharusnya dapat mengukur diri, bahwa pekerjaan sebagai presiden memerlukan kondisi fisik yang cukup kuat, bukan semata-mata dukungan beberapa kelompok. Indonesia akan tambah kacau nantinya kalau sebentar-sebentar presidennya masuk rumah sakit. Yang masyarakat harus tahu adalah.. siapa-siapa sebenarnya para kiai di belakang gus Dur yang dikatakan memerintahkan untuk maju nyalon. Adalah salah besar kalau hanya Gus Dur yang memikirkan bangsa secara utuh. Beliau kan pernah jadi presiden dan tidak juga membikin masyarakat Indonesia jadi kaya. Karena itu tidaklah berhak mengomentari kalau pemerintah sekarang kurang memajukan rakyat. Logikanya, anda pernah diberi kesempatan, dan kesempatan tersebut anda gunakan 'sak enak udelmu' juga .. Makanya sekarang... ndak usah omonglah...!

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Dewan Syura DPP PKB Abdurrahman Wahid menyatakan dirinya akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden dalam bursa pemilihan presiden 2009 mendatang. "Saya sudah dapat perintah dari para kiai sepuh untuk menjadi calon presiden mendatang," katanya usai acara 'Orasi Akhir Tahun Gus Dur di Jakarta, Minggu (30/12).

Pemimpin yang ada saat ini, kata kiai yang biasa disapa Gus Dur ini, tidak berpihak pada rakyat banyak dan hanya memikirkan kepentingannya masing-masing. "Tidak ada yang memikirkan bangsa secara utuh," katanya.

Menurutnya, dibawah pemerintahan pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla, bangsa ini justru mengalami kemunduran. "Klaim ada kemajuan dari pemerintah, karena SBY elitis," katanya.

Ia menilai Presiden Yudhoyono tidak perduli pada kesulitan yang dihadapi rakyat. "Rakyat sekarang melarat, dia (Yudhoyono) tidak perduli, tapi ngurusi hak cipta lagu," katanya. Mengenai siapa tokoh yang akan menjadi pasangannya nanti, ia hanya menjawab, "Tunggu tanggal mainnya."

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar membenarkan partainya akan mengusung Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden 2009 nanti. "Kami sudah putuskan Gus Dur sebagai calon presiden," katanya.

Mengenai siapa tokoh yang akan mendampingi Gus Dur, ia melanjutkan, akan dibahas dalam rapat kerja nasional Partai Kebangkitan Bangsa awal tahun depan nanti. Partainya, kata dia, juga belum memastikan akan berkoalisi dengan partai mana. "Saat ini belum ada partai yang serius soal koalisi, masih tahap penjajagan," katanya. Dwi Riyanto Agustiar

Friday, December 28, 2007

Budaya Baca Tulis

Kompas Sabtu 29 Desember 2007.

SBY menyataka bahwa mayarakat kita lebih berat ke budaya lisan/tutur dpd budaya tulis dan baca. Yang benar adalah kita selain tidak memiliki budaya tulis dan baca, tidak juga punya budaya tutur dan lisan. Buktinya semakin banyak budaya-budaya lisan/tutur yang semakin hilang. Lihatlah budaya cerita, tembang, mocopat, sandiwara lokal, tonil, ludruk dll. yang semakin menyusut. Belum lagi banyak bukti yang menunjukkan bahwa para ilmuwan kitapun gagap berbicara, politikus apalagi.. kalau bicara plintat-plintut tanpa logika dan kurang mengindahkan kaidah bahasa. bahasa Indonesia kita semakin lama tidak menjadi semakin baku, malahan menjadi kacau. Simaklah para pejabat, selebriti, ulama bahkan pakar bahasa di berbagai media... Bahasa Indonesia yang indah belum semourna sudah dicampur dengan bahasa asing maupun lokal, teremasuk bahasa gaul, bahasa prokem dll. campur aduk sehingga menyulitkan bangsa lain yang tertarik untuk mempelajari bahasa kita. Fenomena Tukulisasi televisi sesungguhnya menjadi penghambat perkembangan bahasa.












Berita Utama
Sabtu, 29 Desember 2007

10 Tahun Reformasi
Presiden: Jujur Saja, Indonesia Bergerak Maju

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, dengan penilaian yang jujur, obyektif, dan terbuka, Indonesia yang terus bertransformasi hingga saat ini bergerak maju dari situasi serba krisis sejak tahun 1997. Jika transformasi terus dilanjutkan, Presiden optimistis masa depan Indonesia akan terus menjadi lebih baik.

"Disertai optimisme dan kerja keras, jika transformasi dilanjutkan, insya Allah masa depan kita akan lebih baik," ujar Presiden dalam sambutan peluncuran buku kumpulan pidato dan pernyataannya dengan judul Indonesia on the Move di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (28/12).

Untuk klaim kemajuan itu, Presiden menyebut bidang politik, ekonomi, sosial, pertahanan, dan posisi di dunia internasional sebagai acuan. Di bidang politik, hak asasi manusia dan demokrasi mekar. Di bidang ekonomi, pertumbuhan ekonomi terus naik mendekati 7 persen. Di bidang sosial, tak ada lagi konflik. Di bidang pertahanan, tak ada lagi embargo. Di bidang luar negeri, posisi Indonesia makin kuat.

Kemajuan bangsa yang kini dirasakan itu, menurut Presiden, tidak lepas dari peran seluruh masyarakat dan juga para pemimpinnya. Presiden menyebut peran Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Tidakkah secara jujur, meskipun tetap ada masalah, ada capaian dan ada kemajuan sepanjang perjalanan ini," ujarnya. Klaim itu menjadi dasar bagi Presiden Yudhoyono memberi judul atas buku yang disusun Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal itu.

Presiden ingin dunia internasional tahu dan tepat memahami Indonesia secara gamblang. Selama ini, Presiden merasa Indonesia kerap salah dimengerti oleh beberapa pihak dan dinilai sebagai negara yang paling susah dimengerti.

"Dunia harus tahu, Indonesia tengah bangkit dari krisis dengan visi dan idealisme jelas serta karakter yang kuat. Saya ingin memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Indonesia. The true picture of Indonesia," ujarnya.

Masyarakat belajar

Untuk mengantar Indonesia pada kemajuan yang dicita-citakan, Presiden menekankan pentingnya budaya baca-tulis dan belajar. Pentingnya budaya baca dan tulis ini disampaikan juga sebelumnya oleh Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama. Meskipun demikian, sangat disayangkan, budaya baca di Indonesia masih rendah.

"Kita saat ini senang dengan budaya lisan dan tutur. Tidak keliru, tetapi harus dilengkapi dengan budaya baca dan tulis. Marilah bangun diri kita menjadi masyarakat membaca dan masyarakat belajar. Membaca adalah investasi, solusi, dan dapat mengubah nasib dan masa depan," ujarnya.

Terhadap upaya membangun masyarakat membaca dan masyarakat belajar, Presiden memberikan penghargaan atas upaya panjang Jakob Oetama dengan Kompas Gramedia-nya sebagai penjuru dan pemimpin di garis depan.

Mengenai upaya menjadi masyarakat belajar, Presiden bercerita mengenai kegemarannya menghabiskan libur akhir pekan sejak berpangkat letnan bersama istri dan anak-anaknya ke toko buku. Dua toko buku yang kerap dikunjungi Presiden dan keluarga adalah Toko Buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung, dan Gramedia Matraman. Buku bagi Presiden menimbulkan inspirasi, menambah pengetahuan, dan menyempurnakan kepribadian.

Terhadap kegemaran Presiden yang nyata dalam buku-buku yang diterbitkan, Jakob Oetama memuji Presiden sebagai negarawan, cendekiawan, dan juga budayawan.

Setelah peluncuran buku, Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono berkeliling toko buku.

Presiden dan Ny Ani Yudhoyono mengakhiri acara dengan ikut bernyanyi bersama anak-anak di lantai empat. (INU)

Terbelit kemiskinan

Ini jawaban mengapa kemiskinan di Indonesia tak kunjung berkurang.

Pertama, ini menyangkut karakter bangsa, yaitu .. tidak mau atau malu mengakui kekurangan atau kelemahan diri, kurang mau berintrospeksi, cenderung menyalahkan faktor 'luar'...

Apapun ukurannya, semua orang tahu bahwa 30-50% manusia Indonesia berpenghasilan kurang dari 20 ribu rupiah (2 $AS) per hari, 18-20% berpenghasilan kurang dari 10 ribu rupiah (1 $AS) per hari. Nilai-nilai pendapatan tersebut yang umumnya dipakai sebagai ukuran batas kemiskinan di seluruh dunia. Tujuannya tentu saja untuk melihat sejauh mana usaha pemberantasan menunjukkan hasil. Jadi kalau garis yang dipakai adalah persentase manusia Indonesia yang hidup di bawah pendapatan 10 ribu rupiah per hari, maka kalau kita dapatkan angka 18% pada tahun 2004, berarti pada tahun tersebut ada sekitar hampit 40 juta rakyat kita tergolong miskin. Masalah yang ada pada kebijakan pemerintah Indonesia bukannya pada upaya menurunkan angka tersebut, akan tetapi pada upaya menipu dunia dan diri sendiri bahwa bahwa usaha pemberantasan kemiskinan 'terlihat' berhasil. Jadi, daripada berpegang pada garis kemiskinan 1 dollar atau dua dolar secara tetap, yang dipegang sama pemerintah adalah nilai 'persentase' sebagai ukuran keberhasilannya. Makanya tiap tahun kita hanya berdebat dengan cara menggoyang dan memindahkan garisnya batasnya.

Belitan Kemiskinan

Benazir Bhutto

Ya Allah,.. dunia kembali kehilangan seorang muslimah yang berani...
Apapun aliran politiknya, saya selalu mengagumi wanita satu ini. Bukan karena politik yang dianutnya.. melainkan kepercayaan dirinya yang kuat yang menyebabkan hilangnya rasa takut akan maut yang selalu mengintai. Tidaklah banyak orag yang seperti ini.

Disebuah koran disebut.. Megawati berusaha menyejajarkan diri dengan Benazir.. saya kira agak jauh dia di belakang Benazir. Benar mereka sama anak presiden, benar mereka adalah presiden perempuan dinegara masing-masing, akan tetapi dalam hal artikulasi berbicara, kemampuan komunikasi, intelegensia dan visi kenegaraan,.. semuanya hal yang sangat krusial sebagai modal negarawan, .. lebih dimiliki Benazir ketimbang Megawati ...

Pemimpin Indonesia perlu belajar banyak dari wanita utama Pakistan ini. Modal akademik, kemampuan komunikasi, pengalaman melihat dunia yang lebih lebar, keberanian mengambil resiko, strategi merancang masa depan partai dlsb. perlu mendapat perhatian utama. Politisi Indonesia kebanyakan muncul berkat kasak-kusuk, kong-kalikong, suap sini suap sana, mengambil keuntungan sebelum bekerja, pendek visi, self-centered, penganut nepotisme, primordialisme, croniisme, malah sebagain besar rasisme.

Friday, April 20, 2007

Siapa terorist, siapa penyelamat.

Ini ironi yang tak pernah berhenti.
Bush bilang amerika adalah penyelamat sedangkan bin ladin adalah si teroris
Bin Ladin bilang Al-Qaidah adalah penyelamat sedangkan Bush dan pasukannya adalah yang sebenarnya teroris.
Masing-masing bersandar pada ukuran yang mereka miliki.
Bush punya bekal Bibel dan ajaran gereja yang didatangi sewaktu-waktu
Bin Ladin punya dalil dari sobekan Qur'an.
Dibilang apapun keduanya tak akan mungkin bisa ketemu
Didukung atau dikecampun mereka takkan berhenti
bagaimana kalau kita mulai dari kita sendiri
berhenti mendukung dan berhenti mencaci
karena agama adalah budi pekerti .. bukan benci
karena Qur'an adalah ajaran tentang kesabaran, bukan kekerasan, bukan petentengan
karena Bibel adalah ajaran damai bukan perang
mereka lupa bahwa kemenangan bukanlah karena jumlah, melainkan tumbuhnya kesadaran
bagi pejuang sejati, surga untuk mereka yang melawan kezaliman,
bukan untuk mereka yang menyerang si awam

Dangdut yang tidak sehat

Pernah coba nonton dangdut via YouTube atau Google video? Walah ...., kesan yang pertama muncul di benak adalah betapa miskinnya moral musisi kita. Para penyanyi dangdut kita saat ini hanya bisa pamer aurat. Adapun seni dangdutnya tidak lagi membuat penikmat musiknya betah dengan pameran pakaian super ketat dan super mini....

Saya bermimpi mungkin kalau membayangkan suatu saat dangdut akan menjadi panutan lagu dunia. Cengkoknya yang khas dengan syair lagu tentang cinta, penderitaan si yatim atau gaya metaforis mebandingkan bau cinta dengan bau durian memang kelihatan serba lugu, tetapi sesungguhnya mencerminkan dunia bawah masyarakat kita.

Kini kalau muncul banyak lagu tak bermutu dengan tekanan pada 'goyangan maut' apakah itu bukan cerminan kondisi kita sekarang? Saya rindu Ida Lala, .. juga Elvie Sukaesih, Rita Sugiarto, Meggy Z bahkan pak Dirman si tak semua Laki-laki. Anehnya yang populer malah si Inoel yang kualitas suaranya memble..!

Wednesday, October 18, 2006

Nobel perdamaian untuk Muhammad Yunus

Saya turut bergembira atas hal ini.

Selayaknya momentum bagus ini bisa kita renungkan bahwa sistim ekonomi haruslah didasarkan pada sistim kepercayaan, bukan sistim penghargaan dan hukuman (reward and punishment) sebagaimaa diterapkan dalam ekonomi kapitalis. M. Yunus mengajarkan kepada kita bahwa inilah sebenarnya konsep ekonomi dalam Islam, kepercayaan dan pinjaman tanpa bunga. Orang miskin memiliki 'hak' untuk meminjam uang (bukan 'boleh'). Grameen system adalah sistim ideal bagi negara miskin dam semestinya efektif diterapkan di Indonesia, atau negara Islam yang lain.
Saya membayangkan alangkah besarnya dampak pengentasan kemiskinan bila Arab Saudi dapat menerapkan metode tersebut untuk perbankan negaranya. Bukannya mengikuti teori kapitalis. Kita secara jelas daoat melihat bahwa sekalipun Arab saudi terlihat kaya, negara tersebut tak lebih dari kaki tangan para imperialis kapitalis dengan belenggu mengikat di belakang.

Amerika di Iraq

Ada alasan khusus mengapa Amerika berlama-lama menduduki Iraq, walaupun korban dipihak mereka semakin banyak berjatuhan, demikian pula tekanan publik di dalam negeri mereka semakin besar. Hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan kedudukan Bush sebagai presiden. Menurut saya ini adalah program besar dibalik rencana cakra lima.

Teori saya, tujuan utama mereka adalah membuat Iraq demikian labil sehingga akan terjadi pemecahan wilayah, katakanlah selatan untuk Syiah, tengah untuk Sunni dan utara untuk Kurdi. Dengan demikian di masa mendatang akan lebih mudah mengakses minyak atau membuat sesuatu untuk kepentingan mereka.

Tuesday, September 26, 2006

Mau apa Kalla?

Beberapa hari ini berita tentang Yusuf Kalla melakukan kunjungan ke Amrik dan Kanada memenuhi halaman koran di Indonesia. Saya menilai kunjungan yang dilakukan ini tidak memiliki dampak nyata dalam konstelasi keseluruhan ekonomi Indonesia yang menjadi tujuan utamanya. Ini lebih merupakan upaya promosi kegiatan dalam rangka persiapan menjadi RI I. Kalau mau memperbaiki ekonomi bangsa, caranya bukan dengan kunjungan politk semacam ini tapi lebih baik dilakukan dalam kerangka ekonomi yang lebih luas (penyajiannya juga harus lebih profesional). Kunjungan seperti ini biasanya malah bikin repot semua orang yang didatangi, menguras biaya, serta sarana untuk keluarga terdekat shopping sepuasnya. Bagi kedutaan besar atau konsulat penerima, ini 'proyek' besar ...

Paus Sontoloyo

Paus juga ingin ngetop. Tentu saja dia gerah karena pengikut yang semakin menurun serta semakin jarang pergi ke gereja. Coba saja perhatikan di banyak kota dunia, gereja dengan bangunan yang megah isinya kosong.
Jangan-jangan beliau ini teroris .. karena tidak menyadari bahwa kata-kata yang diucapkan dalam jabatannya selaku imam justru lebih besar daya ledaknya dari sebuah bom. Lagi pula kenapa sih dia ini 'cawe-cawe' urusan agama lain. Referensi yang dikutip saya kira tidak lebih nilainya dari kata-kata orang mabuk dipinggir jalan. Surat 109 (Orang Kafir) hendaknya jadi reference untuk meresponnya. "Hey orang yang tak suka Islam, saya kan tidak menyembah Tuhanmu, kamu juga tidak nyembah Tuhanku (jadi ngapain kamu usil..). Urus saja agamamu, saya urus agama saya sendiri".

Sunday, September 24, 2006

Hari ada berita OBL mati karena tipes. Ini saya kira pancingan supaya ybs membuat pernyataan yang dari situ nantinya dia akan ditrack. He he ... lucunya itu Amrik. Manalagi sikap kekanak-kanakan mereka waktu bikin susah menlunya Chavez di bandara.

Banjir lumpur porong ndak selesai, barangkali sengaja didiamkan karena ini menjadi potensi bikin susah pejabat-pejabat pemerintah terkait. Kalau presiden berani menetapkan ini sebagai bencana nasional mungkin agak berlebihan , tetapi sebenarnya diperlukan (necessary).

Ada lagi berita membludaknya jamaah tarawih di Jateng karena imamnya hafiz. Ini merupakan perkembangan positif sebagai penghargaan terhadap para hafiz. Menjadi imam masjid seharusnya memang hak mereka yang memeiliki bekal agama yang cukup. Hanya saja kemapuan menghafal dan membaca dengan baik Al-Qur'an hendaknya hanya sebagian dari persyaratan. Pengetahuan agama (fiqh, hadits, sejarah dll) serta adab merupakan hal lain yang harus menjadi persyaratan.

Kriminal kok dibela. Ini sebenarnya judul yang saya angankan ketika membaca reaksi masyarakat dibeberapa kota (Atambua, Palu) setelah eksekusi Tibo dkk. Dari sebuah sumber di MIIT saya baca betapa kejamnya mereka yang nampaknya didatangkan dari NTT menjadi semacam pasukan sahid pihak Kristen yang bersengketa di Palu. Selain menghendaki tindakan yang sama terhadap umat/pasukan Islam yang berlaku seperti Tibo (menghukum/ yang tidak bersalah), saya kira pihak keamaan perlu mencermati mereka yang memberikan reaksi berlebihan terhadap eksekusi tersebut. Meningkatkan wibawa pengadilan sebenarnya sangat perlu pada saat masyarakat yang buta keadilan dalam kebimbangan (anomali). Akan tetapi reaksi beberapa tokoh nasional (a.l. Hikam) yang perhatikan nampaknya hanyalah cara dari para politikus tua untuk mencoba berkiprah kembali. Wallaahu a'lam.